MATERI BEBANYOLAN BAHASA BALI

 



MATERI BEBANYOLAN

A. Tujuan Pembelajaran

Sasampun siswa melajah materi Bebanyolan, siswa kaaptiang prasida:

  1. Menjelaskan pengertian bebanyolan antuk basa sane sederhana.

  2. Mamahami struktur bebanyolan.

  3. Ngidentifikasi jenis-jenis bebanyolan.

  4. Ngidentifikasi ciri-ciri bebanyolan.

  5. Membedakan bebanyolan sareng cerita biasa.

  6. Memahami cara nyurat utawi nyusun bebanyolan.

  7. Menulis bebanyolan sederhana menggunakan Bahasa Bali.

  8. Menyampaikan bebanyolan secara lisan dengan ekspresi yang tepat.

  9. Memahami bahwa bebanyolan dapat menjadi sarana hiburan sekaligus menyampaikan pesan atau kritik secara halus.

B. Manfaat Mempelajari Bebanyolan

Bebanyolan merupakan salah satu bentuk penggunaan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat Bali. Bebanyolan tidak hanya digunakan untuk membuat orang tertawa, tetapi juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan.

Dengan mempelajari bebanyolan, siswa dapat:

  • meningkatkan kemampuan menggunakan Bahasa Bali;

  • belajar membuat cerita yang menarik dan lucu;

  • mengembangkan kreativitas;

  • belajar menggunakan kata-kata secara tepat;

  • belajar memahami humor dalam kehidupan sehari-hari;

  • belajar menyampaikan kritik dengan cara yang halus;

  • meningkatkan keberanian berbicara di depan orang lain;

  • mengenal salah satu bentuk komunikasi yang berkembang dalam budaya Bali.

Bebanyolan yang baik adalah bebanyolan yang menghibur, sopan, dan tidak menyakiti orang lain.




C. Peta Konsep

                        BEBANYOLAN

                              │

       ┌──────────────────────┼──────────────────────┐

       │                      │                      │

  PENGERTIAN               STRUKTUR                JENIS

       │                      │                      │

       │              ┌───────┼───────┐       ┌──────┴──────┐

       │              │       │       │       │             │

       │           Orientasi  Isi    Penutup  Lisan        Tulis

       │                      │

       │                   Puncak

       │                   kelucuan

       │

       └──────────────────────────────────────────┐

                                                  │

                                               CIRI-CIRI

                                                  │

                               ┌──────────────────┼──────────────────┐

                               │                  │                  │

                            Lucu              Sederhana           Menarik

                               │                  │                  │

                               └──────────────────┼──────────────────┘

                                                  │

                                          CARA MENULIS

                                                  │

                               ┌──────────────────┼──────────────────┐

                               │                  │                  │

                            Tentukan           Buat alur          Buat

                             tema              cerita            kelucuan

D. Pengertian Bebanyolan

Bebanyolan inggih punika carita utawi percakapan sane madue unsur kelucuan (banyol, baud, bungkling) sane kaanggen ngawinang jadma sane mireng utawi maca dados nyengir, kenyem, utawi ngikik kedek.

Dalam bahasa sederhana, bebanyolan adalah cerita atau percakapan yang dibuat untuk menghibur dan menimbulkan kelucuan.

Bebanyolan dapat disampaikan secara lisan maupun tulisan.

Bebanyolan biasanya muncul dari:

  • percakapan sehari-hari;

  • pengalaman seseorang;

  • kejadian lucu;

  • permainan kata;

  • kesalahpahaman;

  • tingkah laku tokoh;

  • keadaan yang tidak sesuai dengan perkiraan.

Contoh sederhana

Made: “Belii, kenken carane mangda enggal dueg?”
Wayan: “Mudah. Rajin melajah!”
Made: “Tiang sampun rajin melajah.”
Wayan: “Terus, kenken hasilne?”
Made: “Hasilne... kiap!”

Kelucuan muncul karena jawaban Made tidak sesuai dengan harapan.

E. Tujuan Bebanyolan

Bebanyolan memiliki beberapa tujuan, antara lain:

1. Menghibur

Bebanyolan dibuat untuk membuat orang merasa senang dan tertawa.

2. Mencairkan suasana

Bebanyolan dapat membuat suasana yang tegang menjadi lebih santai.

3. Menyampaikan pesan

Pesan dapat disampaikan melalui cerita lucu sehingga lebih mudah diterima.

4. Menyampaikan kritik

Kritik dapat disampaikan dengan cara yang ringan dan tidak terlalu keras.

5. Membangun hubungan sosial

Bebanyolan yang sopan dapat membuat hubungan antarmanusia menjadi lebih dekat.

F. Struktur Bebanyolan

Bebanyolan biasanya memiliki bagian-bagian yang membuat cerita menjadi menarik. Struktur sederhana bebanyolan dapat dibagi menjadi:

1. Orientasi

Orientasi adalah bagian awal yang memperkenalkan tokoh, tempat, waktu, atau keadaan.

Contoh:

Ring semeng, Made sareng Wayan ketemu ring sekolah. Made ngorahang ia durung ngajeng.

Bagian ini memperkenalkan tokoh dan keadaan awal cerita.

2. Isi atau Peristiwa

Bagian ini berisi percakapan atau kejadian yang mengarah kepada kelucuan.

Contoh:

Wayan nyaut, “Ngudiang durung ngajeng?”
Made menjawab, “Tiang takut gemuk.”
Wayan bengong, “Lho, kok takut gemuk?”
Made menjawab, “Karena nasi ring kantin ngajak tiang makan terus!”

Bagian ini mulai membangun situasi lucu.

3. Puncak Kelucuan

Bagian ini merupakan bagian yang paling lucu atau tidak terduga.

Contoh:

Wayan bertanya, “Jadi, mangkin Made makan napi?”
Made menjawab, “Tiang makan janji saja... janji tidak makan, tetapi nasi tetap telah.”

Puncak kelucuan biasanya membuat pembaca atau pendengar tertawa atau tersenyum.

4. Penutup

Bagian penutup berfungsi mengakhiri cerita.

Contoh:

Wayan akhirnya ketawa, lalu ngajak Made makan bersama ring kantin.


G. Jenis-Jenis Bebanyolan

Bebanyolan dapat dibedakan berdasarkan bentuk dan cara penyampaiannya.

1. Bebanyolan Lisan

Bebanyolan lisan disampaikan secara langsung dengan berbicara.

Contohnya:

  • percakapan lucu;

  • cerita lucu;

  • lawakan;

  • dialog antartokoh.

Contoh

Bli: “Kenken, kok sekolahne sepi?”
Made: “Karena siswa-siswane sedang belajar.”
Bli: “Di mana?”
Made: “Ring umah masing-masing.”
Bli: “Oh, belajar online?”
Made: “Nggih... belajar online, tetapi koneksi offline.”

2. Bebanyolan Tulis

Bebanyolan tulis adalah bebanyolan yang disampaikan melalui tulisan.

Contohnya:

  • cerita lucu;

  • dialog lucu;

  • tulisan humor;

  • cerita pendek yang mengandung kelucuan.

Contoh

Guru: “Made, kenapa tugasmu belum selesai?”
Made: “Ampura, Pak. Tugasne masih dalam proses.”
Guru: “Proses apa?”
Made: “Proses mencari waktu untuk mengerjakan.”

3. Bebanyolan Dialog

Bebanyolan dialog menggunakan percakapan antara dua orang atau lebih.

Contoh:

Wayan: “Kamu sudah belajar?”
Made: “Sudah.”
Wayan: “Belajar apa?”
Made: “Belajar untuk tidak belajar.”

Kelucuan muncul dari jawaban tokoh yang tidak terduga.

4. Bebanyolan Situasi

Bebanyolan situasi muncul karena keadaan atau kejadian yang lucu.

Contoh:

Made sudah memakai sepatu dan siap berangkat sekolah. Setelah sampai di depan rumah, ia baru sadar bahwa hari itu hari Minggu.

Kelucuannya muncul dari situasi yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

H. Ciri-Ciri Bebanyolan

Bebanyolan memiliki beberapa ciri yang dapat dikenali.

1. Mengandung unsur kelucuan

Tujuan utamanya biasanya untuk menghibur.

2. Memiliki kejadian yang tidak terduga

Akhir cerita sering berbeda dari yang diperkirakan pembaca.

3. Menggunakan bahasa yang sederhana

Bahasa yang digunakan biasanya mudah dimengerti.

4. Dapat menggunakan permainan kata

Kelucuan dapat muncul karena penggunaan kata yang memiliki lebih dari satu makna.

5. Memiliki tokoh atau pelaku

Terutama dalam bebanyolan berbentuk cerita atau dialog.

6. Memiliki alur yang sederhana

Cerita biasanya tidak terlalu panjang.

7. Mengandung pesan

Bebanyolan yang baik dapat memberikan pelajaran atau pesan tertentu.

8. Tidak menyakiti orang lain

Bebanyolan harus memperhatikan kesopanan.

Bebanyolan bukan berarti bebas mengejek orang lain.

I. Unsur Kelucuan dalam Bebanyolan

Kelucuan dalam bebanyolan dapat muncul dari beberapa hal.

1. Kesalahpahaman

Tokoh salah memahami perkataan orang lain.

Contoh:

Ibu: “Nak, tolong beli gula di warung.”
Made: “Gula yang putih atau gula yang manis?”
Ibu: “Semua gula kan manis!”
Made: “Tiang kira ada gula yang asin.”

Kelucuan muncul karena kesalahpahaman.

2. Jawaban Tidak Terduga

Tokoh memberikan jawaban yang berbeda dari perkiraan.

Contoh:

Guru: “Made, kenapa kamu datang terlambat?”
Made: “Karena saya datangnya setelah bel berbunyi, Pak.”

3. Permainan Kata

Kelucuan muncul karena penggunaan kata atau kalimat tertentu.

Contoh:

Wayan: “Kamu sudah punya jam?”
Made: “Sudah.”
Wayan: “Jam berapa?”
Made: “Jam tangan.”

4. Tingkah Laku Tokoh

Kelucuan muncul karena tindakan tokoh yang aneh atau tidak biasa.

Contoh:

Made mencari kacamata selama sepuluh menit. Setelah itu, ia baru sadar bahwa kacamatanya sedang dipakai di atas kepala.

J. Cara Menulis Bebanyolan

Membuat bebanyolan sebenarnya tidak sulit. Siswa dapat mengikuti langkah-langkah berikut.

Langkah 1 — Tentukan Tema

Pilih tema yang dekat dengan kehidupan siswa.

Contohnya:

  • sekolah;

  • keluarga;

  • persahabatan;

  • olahraga;

  • makanan;

  • kegiatan sehari-hari;

  • lingkungan.

Contoh tema: Sekolah.

Langkah 2 — Tentukan Tokoh

Tentukan siapa yang terlibat dalam cerita.

Contoh:

  • Made;

  • Wayan;

  • Ketut;

  • guru;

  • ibu;

  • teman.

Langkah 3 — Tentukan Situasi

Tentukan kejadian yang akan menjadi dasar cerita.

Contoh:

Made lupa membawa buku pelajaran.

Langkah 4 — Buat Awal Cerita

Kenalkan tokoh dan keadaan.

Contoh:

Ring kelas X, guru Bahasa Bali nikang siswa ngumpulang buku tugas. Made bingung.

Langkah 5 — Buat Percakapan atau Kejadian Lucu

Buatlah kejadian yang menarik dan tidak terduga.

Contoh:

Guru: “Made, kenapa kamu tidak membawa buku?”
Made: “Ampura, Pak. Bukune tiang tinggal ring umah.”
Guru: “Kenapa bisa tertinggal?”
Made: “Karena bukune lebih rajin pulang daripada tiang.”

Langkah 6 — Buat Puncak Kelucuan

Puncak kelucuan harus menjadi bagian yang paling menarik.

Contoh:

Guru: “Jadi, bukumu yang pulang duluan?”
Made: “Nggih, Pak. Bukune mungkin lebih kangen sama umah.”

Langkah 7 — Buat Penutup

Akhiri cerita dengan singkat.

Contoh:

Sami siswa tertawa, sedangkan Made janji mangda nenten lali malih ngaba buku.

K. Contoh Bebanyolan Utuh

Buku yang Lebih Rajin Pulang

Ring kelas X, guru Bahasa Bali nikang siswa ngumpul tugas.

Guru:
“Anak-anak, mangda buku tugasne ring meja guru.”

Sami siswa mesuang buku, nanging Made terlihat bingung.

Guru:
“Made, tugasmu wenten?”

Made:
“Ampura, Pak. Tiang nenten ngaba buku.”

Guru:
“Kenken bukune nenten kabakta?”

Made:
“Bukune makutang ring jumah, Pak.”

Guru:
“Kenapa bisa makutang?”

Made:
“Tiang kira bukune suba bisa mulih pedidi.”

Guru bengong sebentar.

Guru:
“Buku apa manusia?”

Made:
“Keto suba maksudne, Pak. Buku tiang lebih rajin mulih daripada tiang.”

Sami siswa ketawa.

Guru:
“Besok bukune bawa, Made. Jangan sampai bukumu yang naik kelas duluan!”

Made langsung menjawab:

“Nggih, Pak. Besok buku sareng tiang pacang sekolah sareng-sareng.”

Mengapa cerita tersebut termasuk bebanyolan?

Karena:

  • ada tokoh;

  • ada percakapan;

  • menggunakan situasi sehari-hari;

  • terdapat jawaban yang tidak terduga;

  • menimbulkan kelucuan;

  • menggunakan bahasa sederhana;

  • tetap sopan;

  • memiliki pesan agar siswa tidak lupa membawa buku.


CONTOH MODEL STAND -UP COMEDY


Halo semuanya!


Jujur ya, makin ke sini hidup tuh makin canggih, tapi kita yang makin ribet. Contoh paling gampang: Password.


Dulu, sandi hidup kita tuh simpel. Cuma "1-2-3-4-5-6" atau tanggal lahir. Sekarang? Bikin password akun online udah kaya syarat masuk sekte. Minimal 8 karakter, harus ada huruf kapital, angka, simbol, sama minimal pernah patah hati dua kali.


Kemarin saya mau login ke satu aplikasi. Saya masukin password biasa, eh muncul tulisan merah: "Password Anda Terlalu Lemah."

Saya ganti: "Password Lemah, Seperti Tekad Anda." Lah, ini aplikasi apa mantan? Kok menghakimi banget!


Terus pas saya lupa password, ada fitur Fitur Keamanan: "Siapa nama hewan peliharaan pertama Anda?"

Gua bingung... jangankan piara kucing, piara nyamuk aja di rumah gua tepok! Akhirnya gua ketik: Kecoa Dapur. Eh, salah juga!


Tapi yang paling kocak itu orang-orang zaman sekarang. HP-nya udah Smart, kuncinya udah pakai Face ID, tapi penggunanya kadang lupa cara pakai akal sehat.


Lihat berita hoaks di medsos, main sebar aja tanpa disaring. Giliran kena tipu, yang disalahin algoritma. Padahal kan yang ngeklik jempol sendiri!


Pesan Moral:


Canggihnya teknologi itu ciptaan manusia. Jangan sampai HP kita makin smart, tapi pikiran dan perilaku kita justru makin lowbat. Sebelum sebar informasi atau komentar di medsos, pakai Face ID dulu ke cermin... tanyain ke diri sendiri: "Gua udah cukup bijak belum hari ini?"


L. Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Membuat Bebanyolan

Ketika membuat bebanyolan, siswa perlu memperhatikan beberapa hal.

1. Gunakan bahasa yang sopan

Jangan menggunakan kata-kata kasar.

2. Jangan menghina teman

Bebanyolan harus membuat orang tertawa, bukan membuat orang merasa malu atau sakit hati.

3. Hindari membicarakan kekurangan fisik seseorang

Contohnya jangan menjadikan bentuk tubuh, wajah, warna kulit, atau kondisi seseorang sebagai bahan ejekan.

4. Buat kelucuan yang kreatif

Kelucuan dapat dibuat dari situasi, permainan kata, atau jawaban yang tidak terduga.

5. Gunakan Bahasa Bali yang sesuai

Sesuaikan penggunaan Bahasa Bali dengan tokoh dan situasinya.

6. Buat cerita singkat dan jelas

Jangan membuat cerita terlalu panjang sehingga bagian lucunya menjadi sulit dipahami.

M. Tips Agar Bebanyolan Menjadi Menarik

Gunakan rumus sederhana:

Tokoh + Situasi + Masalah + Kejadian Tidak Terduga + Kelucuan + Penutup

Contoh:

Tokoh: Made dan Wayan

Situasi: sedang belajar

Masalah: Made tidak mengerti pelajaran

Kejadian tidak terduga: Made bertanya kepada Wayan

Kelucuan: ternyata Wayan juga tidak mengerti

Penutup: mereka akhirnya bertanya kepada guru.

Dengan pola tersebut, siswa akan lebih mudah membuat bebanyolan sendiri.

N. Rangkuman Materi

Bebanyolan inggih punika carita utawi percakapan sane madue unsur kelucuan tur tujuan utamanyane ngibur.

Bebanyolan dapat berbentuk lisan maupun tulisan.

Struktur bebanyolan secara sederhana terdiri atas:

  1. Orientasi → memperkenalkan tokoh dan keadaan.

  2. Isi/peristiwa → menceritakan kejadian.

  3. Puncak kelucuan → bagian yang paling lucu atau tidak terduga.

  4. Penutup → mengakhiri cerita.

Jenis bebanyolan antara lain:

  • bebanyolan lisan;

  • bebanyolan tulis;

  • bebanyolan dialog;

  • bebanyolan situasi.

Ciri-ciri bebanyolan yaitu:

  • mengandung kelucuan;

  • memiliki kejadian yang menarik atau tidak terduga;

  • menggunakan bahasa sederhana;

  • alurnya tidak terlalu panjang;

  • dapat menggunakan permainan kata;

  • dapat mengandung pesan;

  • harus tetap sopan dan tidak menyakiti orang lain.

Untuk menulis bebanyolan, siswa dapat mengikuti langkah:

Menentukan tema → menentukan tokoh → menentukan situasi → membuat awal cerita → membuat kejadian lucu → membuat puncak kelucuan → membuat penutup.

Ingatlah!

Bebanyolan sane becik nenten wantah ngawinang jadam kedek, nanging taler prasida ngicenang pabesen, ngajahin sesuatu, tur tetep ngajegang tata krama.


Daftar Pustaka : Buku Udiana Sastra 

  Sumber Internet


Posting Komentar untuk "MATERI BEBANYOLAN BAHASA BALI"